Refleksi Psikologi Belajar : Musikalisasi “Aku”

Oleh: Muhammad Reza Taufani

Ku Merenung, Ku Merenung
Kenali hati
Ku Melaju, Ku Melaju
Menyelami hati

Aku Tahu Siapa Aku
Sebenarnya
Aku Hanya Seorang Manusia
Belaka

Ku Merenung, Ku Merenung
Kenali Hati
Ku Terhanyut, Ku Terhanyut
Menyelami Hati

Yang Penuh
Dengan Kesalahan dan Kelemahan
Di dalam Diriku
Yang Penuh
Dengan Kegelapan dan Terang Di dalam
Diri dan Jiwaku

Aku menyanyikan lagu ini untuk kembali merasakan, apa yang telah aku jalani. Segala hal yang baik maupun buruk dalam setiap keputusan yang aku buat dalam setiap pilihan yang aku hadapi dalam keseharianku. Aku kembali mengingat tentang betapa rapuhnya manusia tanpa yang melahirkannya ke muka bumi ini, aku kembali menanyakan maksud keberadaanku untuk tiba di dunia ini, meskipun tidak ada yang memberikan jawaban yang aku rasa benar.

Aku selalu mencari jawaban dalam diriku sendiri, karena yang kutahu semua manusia yang berhampiran dan pergi tak pernah memberikan suatu hal yang bermakna untuk keberadaanku. Aku harus mencari lebih jauh, lebih tinggi, lebih mulia, dan lebih dari yang orang lain harapkan pada keberadaanku. Aku tidak membenci manusia lain karena mereka tidak merasakan apa yang kurasakan, mereka hanya malapetaka ketika aku mau menjadi aku.

Video dapat diakses disini!

Advertisements

Equilibrium within The Uproar

Ditulis oleh: Vera Amanda S

So, I met her again.

Last night, in my very own crowded mind.

Where the universe is happening in an uproar.

I complained on how my head wont let me sleep,

and how the world seems to stand up againts me.

“Well, This is kinda funny.” She said as she took a glance into the beautiful Raven sky.

“You shouldn’t be worried about that”.

She smiled bitterly before looking straight into my eyes.

 

“Listen to me, Darling. We are born with a wonderful gift”.

I shook my head before saying “What kind of gift?”.

She point her head, answering

“We have an ability to think and use our common sense to survive

our brains are acomodating, asimilating, and searching for a point where balance-or should i say-equilibrium; might happen.”.

I frowned.

“we are living to survive. Your beautiful mind could create a schema where you are able to pass every phase of life.”

I just don’t get it. So I ask her “Why?”.

and she let that beautiful smile slipped off her face.

“Because We learn”.

 

In a second, the uproars are redeemed into a soft whisper of a night wind.

“You shouldn’t be afraid of what life is capable of doing. It is our duty to live the life we are living in.

She smiles before dissolving with the night wind.

As I slowly let my eyelids shuts,

She sang me this beautiful lullaby with a soft whisper.

“We live. Therefore, we learn.”

This Phrase is inspired from Jean Piaget’s Learning Theory.

I’m missing you

Oleh: Meitha Eka Pangestikapicsart_02-20-08-00-23

Jika kejadian indrawi yang biasanya terjadi dalam kehidupan seseorang mendadak tidak terjadi lagi, maka akibatnya adalah munculnya kewaspadan ekstrem dan menggelisahkan yang dirasakan sebagai stres, takut, atau perasaan disorientasi.-Deprivasi Sensoris, Hebb

Aku bukanlah mesin!

Ditulis oleh: Zaynullah Muhammad Aydi

Cukup sudah belasan tahun aku terjajah

Terjajah oleh pengondisian yg membodohkan

Aku dikondisikan untuk menjadi mesin penghasil uang

Angka-angka lebih dihargai daripada keringat yang tercucur

Seorang dengan kemampuan matematis dianggap jenius

Seorang dengan kreativitas yg tak dimengerti dianggap aneh

Sekolah tak lagi jadi tempat meraih ilmu

Melainkan ajang kompetisi hal yg tak disukai

Pantas saja jika banyak yang bosan

Menganggap sekolah tempat pembodohan

Ibarat penjara mental yang membelenggu

Membatasi potensi diri untuk melesat tinggi

Guru selalu memuji si rangking satu

Namun menghukum si ‘bodoh’ dengan labelling ‘malas belajar’

Memang kami malas, Malas melakukan hal yang tak bermakna

Ibu dan bapak tahu kan maksud saya?

Akulah bintang di bumi
Aku ingin terbang bebas melihat dunia dari atas

Dihargai karena sebenar-benarnya potensi diri

Aku bukanlan mesin!

 

Aku ingin…

Oleh: Noor Bayu Alamsyah

Aku ingin menjadi dia..

Yang di matamu selalu sempurna

Aku ingin seperti dia

Yang selalu berusaha

Menjadikan apa saja yang aku punya

Menjadi tanpa cela

Aku ingin menjadi dia

Yang di depan matamu selalu bermakna

Dan untuk setiap perbuatannya

Entah mengapa bisa

Mendapat poin A

Aku ingin menjadi dia

Sekali saja

Agar dunia bisa terbuka

Dan semua melihat aku ada

 

 

Aku bukanlah mesin

Cukup sudah belasan tahun aku terjajah

Terjajah oleh pengondisian yg membodohkan

Aku dikondisikan untuk menjadi mesin penghasil uang

Angka-angka lebih dihargai daripada keringat yang tercucur

 

Seorang dengan kemampuan matematis dianggap jenius

Seorang dengan kreativitas yg tak dimengerti dianggap aneh

Sekolah tak lagi jadi tempat meraih ilmu

Melainkan ajang kompetisi hal yg tak disukai

 

Pantas saja jika banyak yang bosan

Menganggap sekolah tempat pembodohan

Ibarat penjara mental yang membelenggu

Membatasi potensi diri untuk melesat tinggi

 

Guru selalu memuji si rangking satu

Namun menghukum si ‘bodoh’ dengan labelling ‘malas belajar’

Memang kami malas, Malas melakukan hal yang tak bermakna

Ibu dan bapak tahu kan maksud saya?

 

Akulah bintang di bumi
Aku ingin terbang bebas melihat dunia dari atas

Dihargai karena sebenar-benarnya potensi diri

Aku bukanlan mesin!

 

*Zaynullah Muhammad Aydi