Find Your Uncomfort Zone

Oleh: Shabrina Nur Adzhani

Cerita pendek ini terinspirasi dari teori belajar Edward Lee Thorndike, yaitu trial and error. Serta menekankan bahwa belajar bersifat inkremental.


 

 Matahari sudah berada di kaki langit siang ini. Karla segera bergegas berlari menuju kampus dengan keringat yang memaksa keluar dari pori-pori. Saujana dipenuhi kendaraan bermotor yang sibuk lalu-lalang. Membuat kepala Karla semakin kalut bukan kepalang. Ketika sampai, kehidupan kampus sedang diriuhkan dengan rekrutmen sebuah organisasi intrakampus saat itu. Namun Karla seakan tidak peduli karena organisasi bukanlah perkara yang menarik perhatiannya. Salah satu hal yang tidak disukai Karla adalah mencoba sesuatu yang baru. Meninggalkan segala kenyamanan yang telah menyelimutinya selama ini. Melawan ketakutan adalah melelahkan baginya.

 

Sudah lebih dari sepekan, pokok pembicaraan masih melekat pada organisasi tersebut. Beberapa temannya yang sudah melawan ketakutannya terlihat menikmati suasana kehidupannya yang baru di dalam organisasi tersebut. Dan Karla merasa dirinya tidak kemana-mana. Hanya diam di tempat, ditemani ketakutan yang dibuatnya sendiri. Sejak hari itu, resah mengajak dirinya untuk keluar dari tempat yang tidak membuat dirinya berkembang. Lingkungan memberikan Karla stimulus, seakan mengingatkan dirinya bahwa hal-hal yang luar biasa tidak akan terjadi dengan hidupnya yang berjalan tanpa ragam.

 

Hidup yang seakan bosan berjalan ditempat seakan memanggil Karla dengan renjana yang menggebu. Memberikan elegi untuk mengiringi kematian kekhawatiran Karla. Kemudian, Karla memutuskan untuk melangkah keluar dari lingkaran kenyamanannya. Meninggalkan rasa takutnya, jauh di belakang, kemudian hilang ditelan kabut keberanian.

 

Setelah melalui berbagai proses, realita berbicara tak seperti ekspetasi yang Karla kira. Kehidupannya saat ini tak hanya sekedar kelas lalu pulang ke rumah. Namun diselipi berbagai kegiatan di luar akademik dari pagi buta hingga petang menjelang. Bekerja dalam tekanan, cibiran, juga lelah tak berujung menjadi santapan Karla setelah berada di luar lingkaran nyaman. Air mata juga peluh menemani setiap langkah takdir yang sudah dipilihnya secara sadar. Tak ada jalan memutar, Karla harus mampu menyelesaikan apa yang sudah dia mulai. Walau perlahan, Karla yakin mampu melewatinya karena Karla akan terbiasa dengan semua ini.

 

Jatuh, bangun, tersungkur, bangun dengan terseok-seok. Semua Karla hadapi dengan berani. Karla yang dulu telah mati dalam ketakutannya. Dan saat ini Karla hidup kembali dengan membawa keberanian dan risiko yang siap dia hadapi.

 

Gagal bukanlah akhir, namun jika kamu memilih menyerah, semuanya berakhir sudah. Setidaknya gagal lebih baik daripada tidak pernah mencoba sama sekali.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s